Netbook Saga(1)

Hari Minggu kemarin saya menerima kiriman paket netbook Axioo DJH615 yang sebelumnya saya pesan dari Difaa Shop di Tokopedia. Fitur standar seperti layaknya netbook; Atom, RAM 1GB, webcam, tanpa drive optik, dll. Yang cukup mengagetkan saya adalah CD driver yang disertakan juga merangkap sebagai CD instalasi Linux, distro Klixs. Wah, saya memang rencananya mau menginstall Linux di netbook ini, tapi BlankOn atau Ubuntu. Tak apalah, kejutan menyenangkan ini tentu tetap saya terima dengan senang hati 😀
Baca lebih lanjut

Iklan

Pengalaman menggunakan Linux

Tak terasa sudah hampir satu tahun saya menggunakan distro GNU/Linux secara permanen. Sebelumnya saya hanya menggunakan Linux dalam bentuk Live CD, yaitu Mandrake Move (10) dan Ubuntu 7.10. Saya ingat betul Mandrake pernah menyelamatkan data My Documents di partisi C: yang hendak diinstall ulang karena dihantam virus. Kalau tidak salah, juga pernah mencoba Ubuntu 5.04, yang tidak bisa booting sama sekali.

Kalau tidak salah ingat, Mei/Juni 2008 saya memutuskan untuk menginstall Ubuntu 7.10 di komputer rumah, dual booting dengan XP. Umurnya si Gutsy tidak panjang, karena XP perlu diinstall ulang dan kebetulan ada iso Ubuntu 8.04 bonus InfoLinux, jadi saya mengambil kesempatan itu untuk menata ulang partisi harddisk. Ruang yang lebih lega untuk instalasi Hardy di harddisk, begitu.

Baca lebih lanjut

XP berulah lagi

Ketika saya pikir XP sudah kalem sekarang, tak dinyana ia kembali berulah. Kini XP tak bisa di-booting sama sekali, baik dari Last known good configuration maupun dari Safe mode. Masih mending kalau ia menampilkan blue screen, lha ini XP cuma menampilkan layar hitam kosong. Macet. Tewas. Buntu. Terserah deh gimana istilahnya.

Alamat harus install ulang lagi. Padahal belum genap 6 bulan sejak install terakhir. Akhir pekan ini tampaknya harus saya habiskan mencoba memperbaiki XP.

*menghela nafas panjang 😦 *

Akses setiap saat partisi FAT dari Ubuntu

Pengguna Windows biasanya menggunakan setidaknya dua partisi harddisk di komputer mereka; partisi NTFS berisi OS Windows, dan partisi FAT tempat menyimpan data. Hanya pengguna pemula-yang-benar-benar-pemula yang dengan begitu bodohnya menyimpan data di My Documents.

Misalkan dual booting dengan Ubuntu, dua tipe partisi tersebut tetap dapat diakses. Tinggal pilih di Places -> Nama-Partisi, partisi tersebut akan di-mount di /media/nama-partisi. Tapi ini bisa jadi menjengkelkan. Misalnya waktu menjalankan Rhythmbox, lagu yang ditunggu tak kunjung mengalun, gara-gara partisi MUSIK tempat file lagu tersebut disimpan lupa di-mount.

Ada cara agar partisi data tersebut di-mount otomatis setiap kali Ubuntu dijalankan. Pertama pastikan dulu partisi data tersebut sudah di-mount. Klik Places ->Nama-Partisi. Sebagai contoh, di komputer kami ada dua partisi FAT dengan nama DATA dan MULTIMEDIA. Saya ingin agar partisi MULTIMEDIA di-mount otomatis pada saat Ubuntu dijalankan.

Baca lebih lanjut

Incoming mails ….. lost them

Flashdisk saya kembali menjadi korban virus (you gotta love Windows). Jenis virusnya (ataukah worm?) adalah Amburadul dan Malingsi. Untung tidak ada file yang rusak. Yang dilakukan virus itu hanyalah membuat file jpg palsu. Tentu saja file-file palsu itu langsung terdeteksi sebagai file .exe oleh Ubuntu. Jalankan Nautilus, klik Search, ketik “exe” di kolom Search, Enter, Ctrl + A, Shift + Delete, mampuslah virusnya.

Masalahnya, file-file installer dan Thunderbird (pada folder Thunderbird Portable) juga ikut terhapus. Baca lebih lanjut

Tragedi jpgexe

28 Januari 2008, 17.30 WIB

Waktu itu saya baru saja selesai browsing di warnet. Mendownload konten RSS, blogwalking, cek e-mail & Facebook, kongkow-kongkow di forum, rutin biasa. Sekembalinya di rumah, saya sebenarnya ingin langsung membaca konten RSS yang disedot dengan Mozilla Thunderbird (Portable Edition). Tapi sejak terakhir kali flashdrive saya “hancur” dilibas virus, saya jadi benar-benar paranoid dengan ancaman virus/spyware/trojan/dll. Karena itu saya selalu mengingatkan diri untuk mencek dulu flashdrive yang saya gunakan lewat Ubuntu.

Untunglah saya mencek dulu flashdrive tersebut.

OH MY GOD.

Seluruh berkas .jpg (gambar) yang ada di flashdrive tersebut telah berubah menjadi berkas .exe. Baca lebih lanjut

Weapon of choice

Sebagai seorang “musafir warnet”, saya “mempersenjatai” flashdrive saya dengan beberapa installer program dan program portabel. Ini perlu, karena warnet tidak selalu menyediakan program yang saya inginkan. Misalnya, web browser yang tersedia di warnet hanya IE. Maaf saja, saya masih cukup waras untuk menghindari IE, kalau bisa. Saya lebih suka Firefox atau Opera.

Atau contoh lain. Antivirus yang ter-install di komputer warnet “cuma” AVG Free. Tidak diupdate pula. Padahal terkoneksi ke internet tanpa antivirus yang memadai adalah tindakan bunuh diri (setidaknya di platform Windows). Apalagi mengingat warnet dipakai oleh banyak user. Bisa saja user tanpa sengaja (atau dengan sengaja?) menginfeksi komputer dengan virus yang tertanam di flashdrive.

Jadi, penting bagi saya untuk selalu siap sedia dengan sederet program dalam genggaman. Baca lebih lanjut