To the unknown girl

We didn’t know each other, only passing by on the walk of life
But do you know, how I’d always impatiently waiting for that moment?
When you walked by, with that warm smile on your face?

Miracle
On the glimpse of that smile, my spirit feel invigorated in an instant
I also smiled, and would thought “Ah, this would be a joyous day”
How couldn’t that be a miracle?
To create happiness, isn’t that the work of magic
that would touch to the deepest place in heart?

But then one day, I didn’t see you
The day after, I didn’t see you either
Also on the other day after, never I saw you again

I felt down
But then I saw people smiling more
And so I thought “Ah, she must have gone to give smiles to people.
They need her more than me, as this world used to be gloomy”

And I feel satisfied, knowing that I’ll see your smile everywhere

Iklan

Journey

Marched towards nothingness
Marched, marched, marched
But then realization struck me
“What am I doing here?”

Looked around, it’s only void space
How far have I wandered around?
Where’s … everyone?
Am I …… alone?

No, I’m not alone
I can’t be alone
The light never leaves me
The shadow never betray me
Always, the time is by my side

Walks again
Beyond the void, the future will be waiting for me

Brand new start

Malam pergantian tahun tidaklah terlalu istimewa buat saya; saya menghabiskannya dengan tidur bergelung. Pagi malah dimulai dengan “sarapan” segelas Coca-Cola dan dua helai roti tawar. Parah. Tapi bagaimanapun juga, yang namanya hari baru di tahun yang baru, semangat pun harus baru dong.

Ada hal-hal yang ingin saya capai tahun ini (nama keren-nya : resolusi). Tidak muluk-muluk amat : sehat wal’afiat, menambah ilmu dan menjadi manusia yang lebih baik. Baca lebih lanjut

Need to revitalize

I feel that lately I’m lacking enthusiasm of reading and writing. Maybe it was because of the weather. The sky has been gloomy these days, enough to affect my mood. Of course, that’s just excuses. The problem lays within myself; I was, and still a lazy lad. I used to wait till tomorrow what I should have do today. And by nature, I’m not early-bird type. I used to considered that waking up at 6 am or earlier as a crime.

Changing bad habits is hard.

Sorry, mate

Skenario:

Seorang teman minta bantuan dibimbing menggunakan MS Word. Saya tunjukkan langkah-langkahnya satu-persatu. Sang teman mengikuti instruksi yang saya berikan, walau dengan terbata-bata. Terbawa suasana, saya mulai jengkel karena sang teman sering lupa cara melakukan suatu perintah, padahal saya baru menunjukkan caranya kurang dari semenit sebelumnya. Akhirnya saya mulai meninggikan suara.

Di akhir sesi, sang teman berkata “Kamu marah ya? Maaf”

It felt like a slap on my face. Saya selalu berasumsi setiap orang setidaknya sama meleknya dengan saya dalam hal menggunakan komputer. Padahal saya tahu bahwa teman saya itu (menurut pengakuannya) baru-baru ini saja menggunakan komputer. Saya sendiri juga tidak jago-jago amat menggunakan komputer. Kok saya malah bersikap tidak bersahabat seperti itu?

Saya secepatnya minta maaf kepada teman saya tersebut. Masih untung saat itu saya belum sampai pada tahap “ketus”. Kalau iya, mungkin “kerusakan” yang terjadi tidak akan bisa saya perbaiki.

Kepada teman saya itu, kalau dia kebetulan membaca postingan ini, sekali lagi saya minta maaf. Anda bersedia kan, memaafkan saya?