Kisah modem ZTE MF636 di Debian Squeeze

Kebetulan sekarang pegang modem ZTE MF636, yang di”bundel” dengan kartu 3, katanya gratis internetan 3 bulan. Yang nyatanya nggak terpakai, gara-gara sinyal 3 nggak sampai di tempat saya. Jangankan modem, diuji dengan hape saja sinyalnya cuma dapat 1 bar (-__-“). Nomor utama saya, XL, juga sinyalnya “hidup segan, mati semangat”. Cuma Telkomsel yang sinyalnya cukup kuat untuk dideteksi modem ini.

Setidaknya modem ini nggak bikin netbuk mati kalau dicolokin, dan tidak perlu modprobe lagi. Yoi d00d, sudah terdeteksi otomatis. Tinggal utak-atik settingan di Network Manager sahaja. Isikan apn, nomor sambungan, dan DNS Google, beres.

Yang bisa dikeluhkan cuma tarif-kuota-speed yang kadang-kadang saya rasa tak seiring-sejalan…

Iklan

Riset

Kutipan berikut biasa kita temui di artikel tentang membeli komputer/ gadget baru

Sebelum menggunakan operating system selain Windows, coba pertanyakan kembali, dan lakukan riset untuk meyakinkan Anda

Mengapa tidak sebaliknya, pikir-pikir dulu sebelum menggunakan Windows? Okelah kalau PC, yang seolah-olah “tidak ada pilihan lain lagi”. Tapi untuk ceruk laptop, netbuk, smartphone dan tablet? Masa iya sih, misalnya, mesti ragu-ragu pakai iPhone, mesti riset kiri-kanan, lalu lebih memilih seri hape manaaa-gitu yang pake Windows Mobile?

Better mkv playback with mplayer

Normalnya, berkas mkv lancar-lancar saja diputer di Linux. Cuma, kalau yang HQ kadang-kadang nge-lag. Katanya sih, hal ini dikarenakan:

  • Libavcodec’s (and, hence, MPlayer’s) H.264 decoder is single-threaded, so having a dual-core processor doesn’t help much.
  • Decoding H.264 requires lots of processing power.
  • Decoding (and displaying) high-resolution video requires lots of processing power.

Tapi masih bisa diakali kok. Caranya dengan menambahkan beberapa parameter pada mplayer

$ mplayer -autosync 30 -vfm ffmpeg -lavdopts lowres=1:fast:skiploopfilter=all /path/to/video/files.mkv

Biasanya dengan opsi di atas sudah cukup mumpuni untuk nonton di netbuk lemot…

*Catatan supaya nggak repot-repot gugling lagi

External harddisk di Debian

Ceritanya, seorang teman minta disalinkan beberapa berkas installer (ilegal, tentu) dari netbuk saya ke harddisk eksternal miliknya. Kabel dicolokkan, harddisk terdeteksi. Eh rupanya cuma bisa baca thok, nggak bisa paste. Read-only, katanya.

Pertama saya curiganya nggak bisa karena hak akses kurang tinggi. Tapi setelah jadi root pun, tetap saja itu harddisk read-only. Habis akal. Untungnya teringat untuk periksa satu hal dulu: mount. Dan ternyata harddisk eksternalnya pakai format ntfs, sedangkan Debian Squeeze yang saya pakai belum dipasangi ntfs-3g. *beneran tepok jidat*

Karena nggak tahu mana yang saya perlukan, saya install saja semua paket berawalan ntfs dari repo

sudo apt-get install ntfs*

Beres. Harddisk eksternal jadi bisa di-baca-tulis-i. Tapi kadang-kadang unmount sendiri. Yang ini saya kira karena kabelnya soak ๐Ÿ˜›

Konfigurasi .cmus/rc

Tiba-tiba saja, cmus yang saya pasang di Debian Squeeze ngambek, tidak mau lagi memutar puluhan berkas mp3 yang diantrikan di playlist. Usut punya usut, rupanya output tidak didefinisikan di konfigurasinya. Entah apa sebabnya, soalnya cmus belum sempat saya utak-atik, jadi dia dijalankan dengan konfigurasi default.

Jadi saya coba hapus berkas .cmus/autosave dan .cmus/cache, lalu setelah menjalankan cmus, konfigurasinya diatur supaya outputnya pakai alsa. Rupanya mempan, cmus mau muter lagu. Tapi kalau dimatikan lalu dijalankan lagi, cmus lagi-lagi membisu.

Setelah baca-baca manual, ketemu juga obatnya. Cukup buat berkas .cmus/rc berisi baris-baris dibawah ini

set output_plugin=alsa
set dsp.alsa.device=default
set mixer.alsa.device=default
set mixer.alsa.channel=master

Cespleng, cmus sekarang bisa dijalankan tanpa masalah lagi ๐Ÿ˜€

Edit:
Lebih baik pakai channel PCM daripada channel Master
set mixer.alsa.channel=PCM

Download Debian Squeeze dengan jigdo

Kelar donlod cd-1 dari Debian Squeeze, saya agak ragu melanjutkan donlod image cd berikutnya. Bukan apa-apa, sedot cd-1 saja perlu 7 hari 7 malam, berganti-ganti antara modem rampasa…err, pinjaman dan wifi gratisan, keduanya dengan benwit yang bikin capek hati. Eh rupanya ada anjuran dari Wirama agar menggunakan jigdo saja, supaya benwit terpakai secara efisien.

Disini saya tulis caranya, utamanya supaya saya sendiri nggak lupa ๐Ÿ˜€

  1. Di Ombilin paket jigdo belum terpasang, jadi install dulu
    $ sudo apt-get install jigdo-file
  2. Berikutnya adalah mengunduh berkas jigdo dan templat dari berkas iso cd yang ingin didonlot. Daftarnya ada di http://cdimage.debian.org/debian-cd/6.0.0/i386/jigdo-cd/
  3. Sekarang tinggal jalankan jigdo
    $ jigdo-lite nama-file-jigdo.jigdo
  4. Skip saja prompt pertama, tekan Enter. Di prompt kedua, ketikkan URL dari mana kita ingin mengambil berkas-berkas .deb untuk menyusun berkas jigdo. Alias, menurut Wirama, masukkan alamat repo. Di sini saya pakai reponya UI ftp://kambing.ui.ac.id/debian/

Beres, tinggal jigdo mengunduh berkas satu-persatu ๐Ÿ˜€