Ethernet Atheros QCA8172 di Debian Wheezy

Saya baru tahu kalau selama ini port Ethernet (alias colokan kabel LAN) di laptop Lenovo G405 saya ternyata tidak dikenali oleh Debian Wheezy O_O. Biasanya sehari-hari cuma pakai interface wlan0 (alias wireless) sih. Ini baru ketahuan ketika hendak mencoba jaringan VPN dari Pusdatin Kemenkes, kok “eth0 not found”. Rupanya drivernya memang belum masuk di repo Wheezy.

Buka-buka dokumentasi Debian ketemu juga petunjuknya di https://wiki.debian.org/alx . Sekarang sedang install paket dari repo wheezy-backport, mudah-mudahan eth0 bisa dikenali. Menurut laman itu sih bisa untuk Atheros QCA8172 seperti yang ada di Lenovo G405.

The following list is based on the alias fields of modinfo alx in Debian 3.16 (3.16.7-ckt9-3~deb8u1) kernel images.


PCI: 1969:1090 Qualcomm Atheros AR8162 Fast Ethernet
PCI: 1969:1091 Qualcomm Atheros AR8161 Gigabit Ethernet
PCI: 1969:10A0 Qualcomm Atheros QCA8172 Fast Ethernet
PCI: 1969:10A1 Qualcomm Atheros QCA8171 Gigabit Ethernet
PCI: 1969:E091 Qualcomm Atheros Killer E220x Gigabit Ethernet Controller

Update: eth0 berhasil dikenali ๐Ÿ˜€

2015-05-22-154621_1368x768_scrot

Iklan

Bluetooth Atheros di Debian Wheezy

Sejak pertama install Debian Wheezy di Lenovo G405 setahun yang lalu, saya hampir nggak pernah menggunakan fitur bluetooth laptop ini. Soalnya nggak terdeteksi, begitu. Jadi saya cuekin saja, toh nggak perlu-perlu amat bluetooth ini. Tapi akhir-akhir ini karena perlu bluetooth, ya sudahlah googling.

Dan nggak ketemu postingan yang membantu. Mungkin ilmu googling saya masih sangat cetek. Buka Synaptic, dan centang semua paket yang  nyerempet-nyerempet bluetooth. Tentu saja bluetooth masih belum dapat terdeteksi.

Lalu coba cari di packages.debian.org dengan kata kunci “bluetooth atheros”. Hasil pencarian pertama adalah paket “firmware-atheros”, yang terletak di repo NON-FREE! Argghhhhhhhhh!

Jadi setelah repo non-free diaktifkan, update, install firmware-atheros, nyalakan Blueman Device Manager, voila!

2015-05-11-192312_684x473_scrot

Iya, masih belum sempat upgrade ke Jessie

Upgrade python2.7 di Debian Squeeze

Uh-oh, versi interpreter python di repo Debian 6.0 masih versi 2.6.6, sedangkan saya perlu versi 2.7 agar dapat menggunakan SDK Google AppEngine dengan baik. Karena python2.7 adanya di repo testing, baris berikut perlu ditambahkan di /etc/apt/sources.list:

deb http://kambing.ui.ac.id/debian testing main contrib non-free

Lalu perbaharui daftar paket dari repo dan pasang python2.7

# apt-get update
# apt-get install python2.7

Sekalian buat 2.7 menjadi default runtime
# update-alternatives --install /usr/bin/python python /usr/bin/python2.7 10

Upgrade Google Chrome

Yak, karena versi Google Chrome saya yang kayaknya sudah usang dan saya sudah bosan lihat peringatannya di dashboard WordPress, hari ini saya coba upgrade, mumpung benwit lancar jaya.

sudo apt-get install google-chrome-stable

Kok install, bukan upgrade? Karena upgrade akan memperbaharui seluruh paket yang terpasang, dan benwitnya tidak selancar itu.

Dan akhirnya Chrome bisa dipakai main Angry Bird ๐Ÿ˜€ (ya, ya, memang basbang)

blam!

Kisah modem ZTE MF636 di Debian Squeeze

Kebetulan sekarang pegang modem ZTE MF636, yang di”bundel” dengan kartu 3, katanya gratis internetan 3 bulan. Yang nyatanya nggak terpakai, gara-gara sinyal 3 nggak sampai di tempat saya. Jangankan modem, diuji dengan hape saja sinyalnya cuma dapat 1 bar (-__-“). Nomor utama saya, XL, juga sinyalnya “hidup segan, mati semangat”. Cuma Telkomsel yang sinyalnya cukup kuat untuk dideteksi modem ini.

Setidaknya modem ini nggak bikin netbuk mati kalau dicolokin, dan tidak perlu modprobe lagi. Yoi d00d, sudah terdeteksi otomatis. Tinggal utak-atik settingan di Network Manager sahaja. Isikan apn, nomor sambungan, dan DNS Google, beres.

Yang bisa dikeluhkan cuma tarif-kuota-speed yang kadang-kadang saya rasa tak seiring-sejalan…

External harddisk di Debian

Ceritanya, seorang teman minta disalinkan beberapa berkas installer (ilegal, tentu) dari netbuk saya ke harddisk eksternal miliknya. Kabel dicolokkan, harddisk terdeteksi. Eh rupanya cuma bisa baca thok, nggak bisa paste. Read-only, katanya.

Pertama saya curiganya nggak bisa karena hak akses kurang tinggi. Tapi setelah jadi root pun, tetap saja itu harddisk read-only. Habis akal. Untungnya teringat untuk periksa satu hal dulu: mount. Dan ternyata harddisk eksternalnya pakai format ntfs, sedangkan Debian Squeeze yang saya pakai belum dipasangi ntfs-3g. *beneran tepok jidat*

Karena nggak tahu mana yang saya perlukan, saya install saja semua paket berawalan ntfs dari repo

sudo apt-get install ntfs*

Beres. Harddisk eksternal jadi bisa di-baca-tulis-i. Tapi kadang-kadang unmount sendiri. Yang ini saya kira karena kabelnya soak ๐Ÿ˜›

Konfigurasi .cmus/rc

Tiba-tiba saja, cmus yang saya pasang di Debian Squeeze ngambek, tidak mau lagi memutar puluhan berkas mp3 yang diantrikan di playlist. Usut punya usut, rupanya output tidak didefinisikan di konfigurasinya. Entah apa sebabnya, soalnya cmus belum sempat saya utak-atik, jadi dia dijalankan dengan konfigurasi default.

Jadi saya coba hapus berkas .cmus/autosave dan .cmus/cache, lalu setelah menjalankan cmus, konfigurasinya diatur supaya outputnya pakai alsa. Rupanya mempan, cmus mau muter lagu. Tapi kalau dimatikan lalu dijalankan lagi, cmus lagi-lagi membisu.

Setelah baca-baca manual, ketemu juga obatnya. Cukup buat berkas .cmus/rc berisi baris-baris dibawah ini

set output_plugin=alsa
set dsp.alsa.device=default
set mixer.alsa.device=default
set mixer.alsa.channel=master

Cespleng, cmus sekarang bisa dijalankan tanpa masalah lagi ๐Ÿ˜€

Edit:
Lebih baik pakai channel PCM daripada channel Master
set mixer.alsa.channel=PCM