Ubuntu spotted at wild! 

Not quite so. But a colleague at office did recently ask me to take a look at her non-booting Ubuntu laptop (it was fsck problem). 

What caught my attention was she’s using 16.04 version. The last Ubuntu I used was 12.04, iirc? And it’s latest release apparently has reached the end of alphabet. Zesty Zapus. Maybe I should give it a try?  (Thank God for Virtual Machines. No need for total harddisk wipe-out like when I installed Ubuntu for the first time, 8.04). 

Iklan

Mengklaim akun ymail yang di”daurulang” Yahoo

Pertama-tama: SAYA BERHASIL MENDAPATKAN KEMBALI AKUN YMAIL YANG TERLANJUR DIDAURULANG YAHOO KARENA KELEWAT JARANG DIPAKE UWOHHHHHHHHH

Kira-kira di awal tahun ini, iseng-iseng saya mencoba login ke akun Ymail, yang jarang saya gunakan. Rupanya gagal login, gagal reset password, gagal login dari Flickr, dst. Selidik punya selidik di laman bantuan Yahoo, rupanya ada kebijakan “mendaurulang” akun ymail kalau selama beberapa bulan tidak ada gelagat login, kira-kira semacam itu. Kecewa benar saya, soalnya nama akunnya bagus: singkat, padat, jelas, tanpa angka.

Apa boleh buat, Ymail masih pakai paradigma konservatif penyedia email. Berbeda dengan Gmail yang mau jarang login bertahun-tahun pun tetap akunnya aktif (setidaknya demikianlah normanya hingga hari ini).

Sebetulnya, Ymail sudah menyediakan mekanisme untuk mengklaim kembali akun tersebut, tapi mesti menunggu setahun dari login terakhir, baru bisa sukses reset password dan login ulang. Itu pun kalau tidak keburu diserobot orang lain yang menginginkan nama akun yang sama. Arsip inbox-draft-sent mail pun akan dihapus total, kecuali email “Welcome to Yahoo!” dan email pergantian password.

Jadi malam ini, kembali saya iseng reset password akun Ymail tersebut, rekues email link reset agar dikirim ke akun Gmail yang sehari-hari saya gunakan…dan wow, emailnya benar-benar datang. Setelah memasukkan password baru, akun Ymail tersebut akhirnya kembali ke tangan saya. Lihat inbox, ternyata aktivitas login terakhir saya sebelum diblokir adalah awal Maret 2014! Beruntung sekali tidak ada yang mencoba klaim akun ini sejak Maret 2015 😀

Tautan: https://id.bantuan.yahoo.com/kb/account/Memulihkan-atau-mengubah-kata-sandi-Yahoo-sln2047.html?impressions=true#cont1

Ethernet Atheros QCA8172 di Debian Wheezy

Saya baru tahu kalau selama ini port Ethernet (alias colokan kabel LAN) di laptop Lenovo G405 saya ternyata tidak dikenali oleh Debian Wheezy O_O. Biasanya sehari-hari cuma pakai interface wlan0 (alias wireless) sih. Ini baru ketahuan ketika hendak mencoba jaringan VPN dari Pusdatin Kemenkes, kok “eth0 not found”. Rupanya drivernya memang belum masuk di repo Wheezy.

Buka-buka dokumentasi Debian ketemu juga petunjuknya di https://wiki.debian.org/alx . Sekarang sedang install paket dari repo wheezy-backport, mudah-mudahan eth0 bisa dikenali. Menurut laman itu sih bisa untuk Atheros QCA8172 seperti yang ada di Lenovo G405.

The following list is based on the alias fields of modinfo alx in Debian 3.16 (3.16.7-ckt9-3~deb8u1) kernel images.


PCI: 1969:1090 Qualcomm Atheros AR8162 Fast Ethernet
PCI: 1969:1091 Qualcomm Atheros AR8161 Gigabit Ethernet
PCI: 1969:10A0 Qualcomm Atheros QCA8172 Fast Ethernet
PCI: 1969:10A1 Qualcomm Atheros QCA8171 Gigabit Ethernet
PCI: 1969:E091 Qualcomm Atheros Killer E220x Gigabit Ethernet Controller

Update: eth0 berhasil dikenali 😀

2015-05-22-154621_1368x768_scrot

Bluetooth Atheros di Debian Wheezy

Sejak pertama install Debian Wheezy di Lenovo G405 setahun yang lalu, saya hampir nggak pernah menggunakan fitur bluetooth laptop ini. Soalnya nggak terdeteksi, begitu. Jadi saya cuekin saja, toh nggak perlu-perlu amat bluetooth ini. Tapi akhir-akhir ini karena perlu bluetooth, ya sudahlah googling.

Dan nggak ketemu postingan yang membantu. Mungkin ilmu googling saya masih sangat cetek. Buka Synaptic, dan centang semua paket yang  nyerempet-nyerempet bluetooth. Tentu saja bluetooth masih belum dapat terdeteksi.

Lalu coba cari di packages.debian.org dengan kata kunci “bluetooth atheros”. Hasil pencarian pertama adalah paket “firmware-atheros”, yang terletak di repo NON-FREE! Argghhhhhhhhh!

Jadi setelah repo non-free diaktifkan, update, install firmware-atheros, nyalakan Blueman Device Manager, voila!

2015-05-11-192312_684x473_scrot

Iya, masih belum sempat upgrade ke Jessie

Normalisasi arah orientasi video dengan ffmpeg

Beberapa hari yang lalu, saya iseng melakukan sedikit eksperimen audio visual //krik. Berbekal sebuah hape Samsung Galaxy Y yang digantungkan pada tas, saya merekam perjalanan dari rumah ke kantor. Walau menahan malu dikira nyombongin hape murahan, tapi DEMI SAINS, PANTANG MUNDUR (syukurlah kebetulan helm full-face, dan apa pula demi sains itu).

Hasilnya lumayan, dapat 15 menit untuk jarak tempuh sekitar 5-6 km. Soal kualitas videonya, ya namanya juga anjroit kelas low-end, goyang-goyang bergelombang dan rada burem. Yang jadi perhatian adalah karena hasil rekaman Galaxy Y berarah landscape, sedangkan hape digantung dalam posisi vertikal atawa portrait, tentu saja videonya terputar 90 derajat. Maunya disunting agar arahnya normal, ternyata bolak-bolak unduh video editor gratisan banyak pesan galat mengeluhkan kalau berkas mp4 hasil rekaman tidak valid, durasi tidak bisa diketahui, crash jatuh terjengkang mati kutu. Apa akal?

Ternyata cukup ditangani dengan ffmpeg sahaja, menggunakan opsi -vf. Dan karena sekalian ingin memotong video, perintah yang saya gunakan adalah:

ffmpeg -i input.mp4 -vf "transpose=1" -ss 00:00:18 -t 00:14:30 output.mp4

-i input.mp4
berkas video yang hendak disunting
-vf "transpose=1"
video filter, memutar orientasi video dengan nilai 1, yaitu 90 derajat searah jarum jam
-ss 00:00:18
awal pemotongan video, yaitu sejak detik ke-18
-t 00:14:30
durasi video yang dipotong, yaitu diakhiri setelah 14 menit 30 detik
output.mp4
berkas hasil konversi akan disimpan dengan nama ini, yaitu output.mp4

Penjelasan lengkap dapat dilihat di manual ffmpeg.

Sederhana dan gak pake lama. Berkas sebesar 80MB terpangkas menjadi 24MB dalam waktu kurang dari 1 menit. Kualitas memang menurun, karena sengaja tidak saya sisipkan opsi -sameq untuk menyamakan kualitas, toh sudah cukup baik untuk keperluan saya.

Video hasil konversi menyusul kapan-kapan koneksi internet agak lega.

NB. Ya, memang kalau diaplod ke yutup, arah orientasi video akan otomatis dinormalkan. Tapi karena perlu dipotong juga, tetap mengandalkan ffmpeg

Review Lenovo G480

Beberapa hari yang lalu saya memesan sebuah Lenovo G480 dari Lazada. Sayangnya bukan untuk digunakan sendiri, tapi untuk dikirimkan ke adik saya di Djogdja sana, pengganti PC lungsuran yang dibeli 2005(?) dan kini hidup-segan-mati-tak-mau. Benar-benar sayang, karena jelas berlipat-lipat lebih nyaman dipakai dibanding Axioo Pico yang biasa saya gunakan.

Soal spesifikasi fisik tak perlu lah saya tulis di sini. Sila lihat di datasheet resmi Lenovo. Yang jelas, walaupun G480 yang saya beli berspesifikasi paling minimum, masih tetap kencang menjalankan PCSX2.

Nilai plus di luar spek fisik adalah G480 ini nyaman digunakan, seperti yang saya harapkan dari sebuah laptop keluaran Lenovo. Hening, tidak cepat panas, keyboard cukup empuk. Touchpadnya juga tidak licin dan cukup responsif. Anehnya justru pemutar cakram DVD yang cukup berisik, walau tak terlalu mengganggu.

Bandrol Rp 3.199.000 saya rasa cukup sepadan untuk Lenovo G480 ini.