A helpless Linuxer

A single post on Plurk. Overwhelming responses. Terminal commands tossed around. Full fun LMAO session.

This is what started it all
$ sudo chown -R you ./my_heart

What’s this command do? Basically, it will change the ownership of “./my_heart” directory and every files under it, to it’s new owner, “you”( We need the sudo command because somehow only root can messed with this directory).

In other words, it’s just a Linuxer way to say “Hatiku adalah milikmu:mrgreen:

Disclaimer: the above command might not work at all. After all, as Wira said

cinta itu tidak bisa dinyatakan dengan perintah cli atau shell scripting kawand…cinta itu hanya bisa dicurahkan dari hati ke hati..

Halah.

Iklan

Lekhonee, blogging client untuk Ubuntu

Tadinya mau install Bilbo setelah baca postingannya Charly Anthony. Apa daya ruang kosong di harddisk virtual tinggal sedikit, dihajar deretan dependency paket-paket KDE begitu bisa semaput. Apa akal?

Setelah dicari-cari di Synaptic, ada macam-macam rupanya aplikasi blogging untuk Linux. Saya memilih Lekhonee, dengan pertimbangan dependensinya cuma beberapa paket python (yang sudah ada di Ubuntu) dan paket lekhonee-nya sendiri ukurannya lumayan kecil.

Tampilan Lekhonee cukup sederhana, tombol markupnya saja hanya ada 4.

Lekhonee, a blogging client


Caranya supaya tulisan jadi justified gimana ya?

*Mengetes posting perdana dari Lekhonee*

The post is brought to you by lekhonee v0.7

Ubunchu 3 sudah rilis !

Seri ketiga dari komik Ubunchu sudah rilis. Kali ini ceritanya tentang bagaimana Akane mengatasi “alergi forum”-nya dan dan tentang bagaimana komunitas Ubuntu menyambut hangat anggotanya.

Ubunchu 3

Versi terjemahan Indonesia-nya sudah diterjemahkan oleh Blek. Saya pribadi lebih menyukai versi terjemahan Indonesia. Kenapa?

  1. Karena diterjemahkan oleh Blek, berarti terjemahannya ngasal, kocak dan agak sinting.
  2. Karena diterjemahkan oleh Blek, berarti halaman bonus berisi najis punchline & mejik

Silakan download komiknya di http://seotch.wordpress.com/2009/11/25/ubunchu03/, dan versi terjemahan Indonesia di http://cecunguk.blankonlinux.or.id/~blaxnux/digivice/ubunchu/

Usil : Setelah di Ubunchu 2, Risa berpose imut, di Ubunchu 3 ini giliran Akane yang membuat klepek-klepek.

Berarti, di Ubunchu 4 nanti, adalah Masato yang berpose imut gitu?

I hope not.

This is Dvoraaak!

Bermula dari komiknya Niwatori, lalu kesintingan moderator di forum Kafegaul (yang membongkar keyboard laptop menjadi layout Dvorak), saya jadi penasaran bagaimana rasanya menggunakan keyboard Dvorak. Kebetulan ada keyboard bulukan yang cocok jadi bahan percobaan.

Told ya, it's "bulukan"

Setelah keyboard dibongkar dan disusun ulang, berikutnya adalah mengatur agar Ubuntu mengenali Dvorak (System -> Preferences -> Keyboard). Pada tab layout. klik Add untuk menambahkan layout Dvorak dan menjadikannya sebagai default. Saya juga mengatur Layout options agar bisa berpindah layout Qwerty-Dvorak cukup dengan menekan kombinasi tombol CapsLock+Shift kedua tombol Shift .

Setelah mencoba Dvorak, rasanya agak kagok, karena sudah tahunan menggunakan Qwerty. Ditambah lagi tombol di keyboardnya agak pudar, menyulitkan saya menemukan tombol yang diinginkan. Tapi lumayan juga, sebagian letak tombol sudah sedikit nyantol di otak (tepatnya, tombol huruf vokal 😀 )

Konon layout Dvorak ini diciptakan dengan tujuan agar penggunanya nyaman dan efektif mengetik, tidak seperti Qwerty yang diciptakan untuk kemudahan produsen mesin tik (bukan untuk kemudahan penggunanya!). Varian layout keyboard lainnya yang didesain untuk kemudahan penggunanya adalah Colemak (nah, macam mana pula itu?).

Oh ya, postingan ini 100% ditulis menggunakan Dvorak 😀