Men”cerah”kan warna pada foto menggunakan GIMP

Saya tak terlalu mengerti dengan trik-trik fotografi. Pokoknya jepret saja, sudah. Perkara hasilnya bagus atau tidak, itu urusan belakangan (tentu saja hasilnya lebih banyak yang kurang memuaskan ๐Ÿ˜‰ ). Untungnya kita hidup di era digital. Kalau foto dirasa kurang bagus, tinggal dipermak saja dengan program pengolah gambar (Photoshop, GIMP, ACDSee atau ……Paint? :mrgreen: ). Tak perlu bayar mahal ke studio foto, cukup dikerjakan dengan komputer di rumah.

Salah satu masalah yang sering saya hadapi dengan hasil jepretan saya adahal foto-foto tersebut saya rasa terlalu pucat. Walaupun sudah utak-atik settingan kamera kok ya warna di foto (biasanya) selalu terlihat tidak natural. Misal, foto di bawah ini, yang diambil di sekitaran pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang.

Sebelum dikoreksi dengan AutoLevel

Sebelum dikoreksi dengan AutoLevel

Saya biasanya menggunakan tool AutoLevel di GIMP (software pengolah gambar open source, dan gratis!) untuk mengoreksi warna. Caranya, pada toolbar jendela utama GIMP, pilih Color->Level->Auto. Nah, foto di atas setelah dikoreksi dengan AutoLevel menjadi begini.

Setelah dikoreksi dengan AutoLevel

Setelah dikoreksi dengan AutoLevel

Voila, sudah agak mendingan kan? Perbedaanya mungkin tak kentara, tapi IMO, foto kedua terasa lebih “hidup” dan “real” daripada foto pertama.

Baca lebih lanjut

Iklan

Melihat hilal dengan Stellarium

Kemarin, Departemen Agama RI, Departemen Komunikasi & Informasi RI, MUI, dan ormas-ormas Islam (dan siapa lagi ya?) bersidang untuk menentukan awal Ramadhan. Dan berdasarkan pengamatan hilal serta ijtima’ ulama, disepakati bahwa awal Ramadhan jatuh pada Jum’at malam, 21 Agustus 2009.

Saya sebagai masyarakat biasa manut saja dengan keputusan tersebut. Tapi saya juga tergelitik untuk membuktikan sendiri, betul tidak hilal tidak terlihat pada Kamis sore, sehingga bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari, baru masuk bulan Ramadhan.

Saya tidak punya teropong, juga tidak tahu cara melihat hilal dengan mata telanjang. Pun malas mencari tempat pengamatan yang bebas halangan ke kaki langit di arah barat. Jadi saya gunakan cara yang simpel saja; dengan Stellarium 0.9.1 pada Ubuntu 8.04.

Hasil rendering Stellarium untuk hari Kamis, 20 Agustus 2009, dari kota Pangkalpinang

Screenshot Stellarium - 20 Agustus 2009

Screenshot Stellarium - 20 Agustus 2009

Hingga hampir terbenamnya bulan, hilal tidak jua terlihat.

Bagaimana dengan hari ini, Jum’at, 21 Agustus 2009?

Screenshot Stellarium - 21 Agustus 2009

Screenshot Stellarium - 21 Agustus 2009

Hilal sudah muncul! Berarti malam ini sudah tarawih, dini hari besok sudah sahur, dan besok siang (Sabtu) mesti puasa.

Marhaban ya Ramadhan ๐Ÿ™‚

Pitulasan

Hmm, sepertinya blog ini sedikit terbengkalai ya? Apa boleh buat, sedang sibuk dengan kegiatan offline. Ikut karnaval Agustusan, ceritanya.

Tahun ini pawai Agustusan di Pangkalpinang agak berbeda dari biasanya. Jika tahun-tahun sebelumnya selalu diadakan pada tanggal 18-20 Agustus, tahun ini rangkaian pawai Agustusan dimajukan menjadi tanggal 14-16 Agustus. Katanya supaya tidak benturan dengan pawai ta’aruf menyambut Ramadhan.

Rangkaian pawai Agustusan di Pangkalpinang tahun ini cukup ramai, karena tingkatannya provinsi. Banyak peserta dari luar Pangkalpinang yang ikut serta. Belum lagi para penontonnya. Bah, nyaris tak ada ruang gerak di sepanjang rute pawai.

Tentu saja dengan manusia sebanyak itu, sampah yang dihasilkan pun nau’dzubillah. Amit-amit. Bahkan di depan tribun kehormatan tempat Gubernur menyambut peserta yang melintas. (Rasa kagum saya untuk “pasukan kuning” yang sigap membersihkan sampah yang ditinggal begitu saja oleh peneserta dan penonton seusai pawai).

Tak lengkap rasanya cerita ini kalau tak ada foto. Tidak akan saya unggah disini, tapi Anda bisa melihatnya di album Flickr saya, Tumblr, ataupun album Facebook. Baru sedikit yang diunggah, yang lainnya menunggu sortiran. (Kamera digital membuat kalap, sebentar-sebentar langsung jepret. Bagus/tidak, nyeni /sampah, itu urusan nanti)

Merdeka! ๐Ÿ™‚

01000010 01101001 01101110 01100101 01110010

01010100 01101000 01100101 01110010 01100101 00100111 01110011 00100000 01110100 01100101 01101110 00100000 01101011 01101001 01101110 01100100 00100000 01101111 01100110 00100000 01110000 01100101 01101111 01110000 01101100 01100101 00101100 00100000 01110100 01101000 01101111 01110011 01100101 00100000 01110111 01101000 01101111 00100000 01110101 01101110 01100100 01100101 01110010 01110011 01110100 01100001 01101110 01100100 00100000 01100010 01101001 01101110 01100001 01110010 01111001 00100000 01100001 01101110 01100100 00100000 01110100 01101000 01101111 01110011 01100101 00100000 01110111 01101000 01101111 00100000 01100100 01101111 01101110 00100111 01110100

Gara-gara thread di KG, terjangkit binary speak deh. Kalau ingin tahu apa arti tulisan diatas, silakan obok-obok Google ๐Ÿ˜‰

Photoblogging : Morning mist

Sulit sekali mengambil foto di waktu fajar. Minimnya cahaya membuat hasil jepretan seringkali blur. Penggunaan tripod sebenarnya akan mengeliminasi masalah ini, sayang saya tidak punya barangnya. Karena itu saya harus berimprovisasi menggunakan jok Yamaha Mio dan kaleng biskuit untuk menopang kamera :mrgreen: .

Morning, world!

Morning, world!

Kabut rawa di pagi hari itu menakjubkan!

Kabut rawa di pagi hari itu menakjubkan!

Ini dia foto yang menggunakan kaleng biskuit sebagai penyangga kamera

Ini dia foto yang menggunakan kaleng biskuit sebagai penyangga kamera