Ubuntu 9.04, first impression

Pengalaman instalasi Intrepid dahulu yang tidak sesuai harapan membuat saya “sedikit waspada”. Akan bodoh sekali kalau saya menghapus partisi Hardy yang handal itu hanya agar saya bisa mencoba Jaunty. Saya berketetapan hati untuk menggunakan Jaunty hanya “kelinci percobaan”, seperti halnya Slackware. Karena itu saya membuat partisi baru untuk Jaunty. Dari sekitar 8GB ruang harddisk yang tersisa di komputer kami, saya mengalokasikan 4GB untuk uji coba Jaunty.

Instalasi berjalan mulus, 20 menit sudah selesai. Namanya juga Ubuntu. Yang membuat saya kaget adalah sewaktu reboot. Booting Jaunty cepat sekali. It was fast, ridiculously fast. Sempat diukur dengan stopwatch, hasilnya rata-rata 25-30 detik. Padahal saya masih menggunakan ext3, bukan ext4. Sebagai perbandingan, di komputer yang sama Hardy dan XP membutuhkan waktu booting minimal satu setengah menit.

Pertama kali login ke desktop, resolusinya tidak cocok, 1152×854. Akibatnya desktop Jaunty tidak ditampilkan penuh pada layar. Untungnya kali ini saya tidak perlu mengutak-atik xorg.conf seperti di Intrepid. Cukup ubah resolusinya di System -> Preference -> Display menjadi 1024×768, beres. Sebetulnya belum beres, karena layar login masih 1152×854, tapi siapa peduli?

Nah, saatnya melihat apa saja yang baru di Jaunty. GNOME 2.26 (Nautilusnya sudah pakai tabbing!), OpenOffice 3.0, dukungan terhadap ext4, wuih sungguh canggih. Wallpaper defaultnya juga keren. Sayang theme Human yang coklat norak itu masih juga jadi default (I know there’s philosophy behind the theme, but come on. Brown and yellow?). Theme Dark Room menurut saya juga sedikit tidak enak untuk mata. Docang-nya Blankon menurut saya malah lebih baik daripada Dark Room.

Anehnya, dengan sederet fitur baru tersebut, saya masih belum ingin pindah dari Hardy. Mungkin karena status LTS-nya? Atau ikatan batin yang sudah sedemikian kuat😀 ? Masalahnya jelas bukan pada spesifikasi komputer, tapi manusianya yang ogah meninggalkan comfort zone😀. Kalau Hardy masih mampu menyediakan apa yang saya butuhkan, kenapa harus pindah ke Jaunty ?

Kalau saja ada PC/laptop baru dengan spek yang lebih “aduhai”, mungkin saya akan menjadikan Jaunty sebagai primary OS-nya. Tapi di komputer ecek-ecek kami, Hardy masih menjadi pilihan utama saya

3 thoughts on “Ubuntu 9.04, first impression

    • Sepertinya untuk orang Indonesia enakan Blankon, karena defaultnya ada codec buat muter mp3 bajakan hihihi Lumayan ndak perlu sedot dari repo dulu

      Tapi saya belum pernah coba, ndak kuat donglot-nya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s