Satu kisah biasa

Kemarin saya kebetulan memerlukan sebuah file odt yang saya buat tahun lalu, yang sialnya saya tidak ingat apa direktori tempat file tersebut berada. Setelah mencoba membuka 50-an file .odt yang terakhir dimodifikasi pada tahun 2008, akhirnya ketemu juga. Masih untung saya tidak harus membuka 100-an file atau lebih sebelum menemukan apa yang saya cari.

Saya jadi berpikir, memang suatu kekeliruan membiarkan file-file berserakan di hardisk, tanpa ada suatu penanda untuk mengenali file tersebut. Kebiasaan memberi sembarang nama pada suatu file, malah jadi senjata makan tuan. Mungkin sebaiknya saya mulai mereka-reka template nama file dan menggunakannya secara konsisten (jauuuh sepertinya, soalnya saya ini orangnya bosanan).

Makanya blogging itu enak. Walaupun sebuah postingan diberi sembarang judul, tapi kita bisa menandainya dalam kategori-kategori tertentu. Mencari kembali suatu tulisan jadi gampang. Tapi entah kalau posting mencapai tiga digit. Mungkin jadi bingung juga.

Lain lagi dengan gambar. Tidak masalah kalau saya memberi nama file jpg/png/gif secara sembarangan. Toh untuk mengenali sebuah gambar, saya hanya cukup melihat sekilas di Nautilus. Tidak seperti teks atau spreadsheet yang harus dibuka satu persatu lalu dipelototi baris demi baris. Tapi khusus untuk foto, saya merasa perlu untuk mengaturnya dengan F-Spot. F-Spot akan secara otomatis membuat duplikat foto yang diimpor pada sebuah direktori tersendiri. Jadi sekalipun file yang nama dan letaknya sembarangan itu tidak sengaja terhapus, saya sama sekali tidak cemas. Selain itu F-Spot juga memiliki fitur tag, sehingga semakin memudahkan pencarian.

Di desktop Ubuntu saya, hanya berkas musik dan video yang benar-benar terorganisir dengan rapi. Template nama yang saya gunakan tidak pernah berubah, “Nama Artis – Judul Lagu Atau Video”. Tergantung dari jenis file, file tersebut mungkin masuk folder Video, atau folder Musik (subfolder Indonesia dan subfolder West). Jika file dengan artis yang sama cukup banyak, maka akan dibuatkan sub-subfolder tersendiri.

*Ndak bisa menemukan judul yang cocok untuk postingan ini, jadi saya buat sekenanya saja. Toh isinya juga sembarang tulis.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s