Mainan baru : openSUSE 11.1 (part II)

Bagian kedua dari tiga tulisan

openSUSE konon adalah salah satu dari tiga besar distro Linux terpopuler di Indonesia, juga di dunia (dua lainnya adalah Fedora dan Ubuntu). Ini tentu saja karena segudang fitur yang ditawarkan. Sayang saya cuma sanggup menyedot versi liveCD-nya, jadi fitur yang saya nikmati pun minimalis.

Desktop openSUSE

Desktop openSUSE

Minimalis bukan berarti tidak powerful. OpenSUSE 11.1 menyertakan OpenOffice.org 3.0.0 (OOo), yang mampu membaca berkas MS Office 2007. Intrepid Ibex saja cuma menawarkan OOo 2.4.0. Untuk aplikasi pemutar lagu, openSUSE 11.1 menggunakan Banshee, yang menurut saya kelihatannya lebih mentereng daripada Rythmbox (jangan khawatir Rythmbox, saya masih setia sama kamu kok). Sedangkan aplikasi-aplikasi lainnya hampir mirip dengan Ubuntu. Tidak heran, desktop environmentnya sama-sama GNOME.

Ada beberapa poin plus openSUSE dibandingkan dengan Ubuntu 8.04 (Hardy Heron) yang biasa saya gunakan. Yang pertama, openSUSE mengenali Bluetooth dongle yang ditancapkan di port USB. Di sistem Hardy, saya angkat tangan kalau menyangkut tentang bagaimana mengaktifkan koneksi Bluetooth. Yang kedua, YaST menawarkan pengaturan komplit terhadap keseluruhan sistem. Powerful indeed. Yang ketiga, tentu saja OOo 3.0.0 tadi itu. Yang keempat,….ehm, saya belum sempat mengeksplorasi openSUSE lebih lanjut, jadi saya lanjutkan poin plus-nya lain kali saja.

Lalu, apa saja poin minusnya? Itu untuk tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s