Sebuah kesan tentang novel Maryamah Karpov

Lama setelah peluncuran perdananya, baru hari ini saya menikmati Maryamah Karpov, sebuah novel karya Andrea Hirata. Bolehlah saya katakan buku ini sama sekali tidak mengecewakan ekspektasi saya. Penutup dari tetralogi Laskar Pelangi ini mewarisi keistimewaan pendahulunya (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi & Edensor), yaitu kemampuan untuk mengikat pembacanya menyimak lekat-lekat kalimat demi kalimat di dalamnya, mulai dari sampul hingga biografi penulis, secara maraton nonstop.

Yang lebih istimewa bagi saya adalah, IMO, kepiawaian Andrea mengeduk-ngeduk hati para pembaca di setiap novelnya. Saya masih ingat ketika pertama kali membaca Laskar Pelangi. Setelah tersenyum-senyum mengikuti petualangan Ikal dkk, mata ini berkaca-kaca mengetahui nasib Lintang yang tragis di penghujung buku. Begitu juga Maryamah Karpov. Andrea kembali menyuguhkan sirkus emosi sepanjang buku ini. Senyum, jengkel, sedih, haru, dan tawa berganti-ganti.

Andrea sukses menjadikan novel-novelnya sebagai sesuatu untuk dinikmati, juga sebagai sesuatu untuk direnungkan. Bagi saya pribadi, tetralogi Laskar Pelangi (terutama Sang Pemimpi) memberikan motivasi yang lebih dan lebih, dibandingkan setumpuk buku-buku tebal bertopik motivasi di jajaran Best Seller toko buku Gramedia. Perjuangan meraih mimpi, itulah yang saya resapi dari tetralogi Laskar Pelangi.

2 thoughts on “Sebuah kesan tentang novel Maryamah Karpov

  1. saya justru tidak setuju, menurut saya seharusnya andrea hirata hanya mencukupkan novelnya di edensor sehingga menjadi trilogi saja, karna karya tetralogi maryamah karpov cukup membuat saya kecewa. judul novel sama sekali tidak berelevansi dengan isinya. isi novel hanya memperpanjang-panjang cerita ke tiga novel sebelumnya atau bahkan bisa dibilang memorize ketiga buku sebelumnya. dan paling parah adalah mendramatisir cerita berikut alur cerita yang tidak jelas. saya justru sangat kecewa membaca karya terakhir andrea, sungguh sangat diluar harapan. saya seperti membaca novel-novel fiksi biasa yang tidak mengandung misi ataupun visi dan tidak berbobot sama sekali. mohon maaf, saya adalah penggemar berat karya2 andrea hirata khususnya laskar pelangi, sang pemimpi dan edensor, tetapi karya terakhirnya ini seperti titik balik yang mengecewakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s