Agar bisa triple-boot lagi

Kesal dengan GRUB openSUSE yang terus-terusan hilang, akhirnya saya memutuskan untuk recover GRUB-nya Ubuntu. Kali ini, live CD Ubuntu 8.04 yang jadi andalan. Lalu saya melakukan langkah-langkah seperti yang dicontohkan pada panduan di dokumentasi komunitas Ubuntu.

Ada sedikit perbedaan antara yang saya lakukan dengan yang ada di panduan tersebut. Perintah find /boot/grub/stage1 menghasilkan dua keluaran yaitu hd(0,2) dan hd(0,6). Baca lebih lanjut

Iklan

Tragedi jpgexe

28 Januari 2008, 17.30 WIB

Waktu itu saya baru saja selesai browsing di warnet. Mendownload konten RSS, blogwalking, cek e-mail & Facebook, kongkow-kongkow di forum, rutin biasa. Sekembalinya di rumah, saya sebenarnya ingin langsung membaca konten RSS yang disedot dengan Mozilla Thunderbird (Portable Edition). Tapi sejak terakhir kali flashdrive saya “hancur” dilibas virus, saya jadi benar-benar paranoid dengan ancaman virus/spyware/trojan/dll. Karena itu saya selalu mengingatkan diri untuk mencek dulu flashdrive yang saya gunakan lewat Ubuntu.

Untunglah saya mencek dulu flashdrive tersebut.

OH MY GOD.

Seluruh berkas .jpg (gambar) yang ada di flashdrive tersebut telah berubah menjadi berkas .exe. Baca lebih lanjut

Mainan baru : openSUSE 11.1 (part III)

Bagian terakhir dari tiga tulisan

Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan openSUSE 11.1 . Ada beberapa hal yang tidak cocok dengan selera saya.

  1. Satu panel saya rasa terlalu sempit. Solusinya tentu saja menambah satu panel lagi di bagian atas.
  2. Navigasi panel Menu kelewat ribet. Ini bisa diatasi dengan menghapus Menu lalu menambahkan Custom Menu ke panel. Jadi makin mirip Ubuntu ya? Tidak masalah, yang penting memudahkan saya. Tapi tiada maaf bagi YaST. Walaupun menurut sebagian orang YaST memudahkan pengaturan sistem, saya justru pusing sendiri melihat begitu banyak item di YaST. Andai navigasinya bisa dipermudah ….
  3. Ini yang membuat saya sempat sport jantung. GRUB sempat hilang. Alhasil, komputer langsung booting ke WindowsXP. Kok bisa ya?
    Tidak bisa mengakses openSUSE sih saya tidak ambil pusing, tapi tidak bisa mengakses Ubuntu? Itu bencana besar. Saya terpaksa menginstall ulang openSUSE agar bisa menampilkan kembali menu GRUB.
  4. Baca lebih lanjut

Mainan baru : openSUSE 11.1 (part II)

Bagian kedua dari tiga tulisan

openSUSE konon adalah salah satu dari tiga besar distro Linux terpopuler di Indonesia, juga di dunia (dua lainnya adalah Fedora dan Ubuntu). Ini tentu saja karena segudang fitur yang ditawarkan. Sayang saya cuma sanggup menyedot versi liveCD-nya, jadi fitur yang saya nikmati pun minimalis.

Desktop openSUSE

Desktop openSUSE

Minimalis bukan berarti tidak powerful. OpenSUSE 11.1 menyertakan OpenOffice.org 3.0.0 (OOo), yang mampu membaca berkas MS Office 2007. Intrepid Ibex saja cuma menawarkan OOo 2.4.0. Untuk aplikasi pemutar lagu, openSUSE 11.1 menggunakan Banshee, yang menurut saya kelihatannya lebih mentereng daripada Rythmbox (jangan khawatir Rythmbox, saya masih setia sama kamu kok). Sedangkan aplikasi-aplikasi lainnya hampir mirip dengan Ubuntu. Tidak heran, desktop environmentnya sama-sama GNOME.

Baca lebih lanjut

Mainan baru : openSUSE 11.1 (part I)

Bagian pertama dari tiga tulisan

Setelah OpenSolaris, sasaran unduh berikutnya saya jatuhkan pada openSUSE 11.1. Saya tidak begitu suka KDE, jadi saya mendownload versi GNOME-nya. Proses download berkas .iso CD openSUSE berlangsung selama 2 jam lebih sedikit, hanya sedikit lebih dari lama daripada download OpenSolaris. Berkas iso tersebut lalu dimekarkan pada sekeping CD-RW yang terakhir kali ditulisi dengan OpenSolaris. Entah sudah berapa kali CD-RW tersebut mengalami tulis-hapus-tulis-dst.

Kali ini saya berniat menginstall openSUSE secara permanen di harddisk. Kenapa tidak diinstall di VirtualBox di atas Ubuntu saja? Karena RAM-nya nggak kuat euy 😦 . Untungnya masih ada 6GB unpartitioned space di harddisk utama. Mengingat ini pertama kalinya saya berurusan dengan si bunglon ijo, proses instalasi agak sedikit membingungkan. Saya nyaris saja menghapus seluruh partisi Ubuntu. Untung sekali saya cepat sadar kalau /sda3 adalah tempat bercokolnya Ubuntu.

Baca lebih lanjut

Cuaca terkutuk!

Hingga dua minggu sebelum hari ini, langit Pangkalpinang rata-rata biru cerah dengan sedikit awan. Hujan hanya kadang-kadang saja di waktu malam. Agak mengherankan, mengingat sekarang seharusnya musim hujan sedang di puncaknya. Tapi pagi ini, Pangkalpinang diguyur hujan. Siang hari hujan telah reda, namun mendung masih menggantung.

Saya (dan mungkin sebagian penduduk Pangkalpinang) jadi merutuk dalam hati. Kenapa mesti hari ini alam berada di jalur yang benar? Kenapa hujannya tidak kemarin-kemarin saja, dan cerahnya di hari ini?

Tentu saja ada alasannya kenapa saya misuh-misuh. Sore hari ini gerhana matahari cincin akan melintasi pulau Bangka. Ini kejadian sekali seumur hidup, tapi awan-awan keparat itu, seakan mengejek, dengan congkaknya menutupi langit. .#%&&*%@##.

Mudah-mudahan sore ini akan cerah.

Friendster atau Facebook?

Saya sudah mengenal Friendster sejak beberapa tahun yang lalu. Dan gara-gara Friendster-lah saya sebisa mungkin menghindari situs social networking. Saya tidak berminat ikut bergabung di keriuhan “pasar ikan” situs-situs jejaring sosial.

Friendster tampaknya populer di Indonesia karena kemudahan mengkustomisasi halaman profil oleh penggunanya. Sayangnya, fitur ini di-abuse habisan-habisan oleh penggunanya. Halaman penuh dengan font warna-warni berbagai ukuran, animasi GIF kerlap-kerlip, Flash yang memperberat loading, JavaScript iseng yang berefek aneh-aneh pada browser, ini semua sungguh mengesalkan.

Baca lebih lanjut