I Do Not Teach You Tricky

Ada sebuah buku bagus yang saya baca baru-baru ini. Judulnya “I Do Not Teach You Tricky”, ditulis oleh Jusra Chandra.

Buku ini bukanlah buku tentang motivasi, tetapi tentang sifat manusia. Tentang orang yang tidak baik tetapi juga tidak jahat. Tentang tipu muslihat dalam hubungan antar manusia. Tentang “abu-abu”, bukan tentang “hitam atau putih”. Tidak menggurui, tapi mengajak memahami. Walaupun memahami, tetapi tidak dipaksa untuk menyetujui.

Ada lebih dari dua puluh kisah yang dituturkan oleh penulis, dan sejumlah renungan yang mengajak kita berpikir, apakah yang benar itu “benar” dan apakah yang salah itu “salah”, apakah yang baik itu “baik” dan apakah yang buruk itu “buruk”. Dan sekalipun penghakiman telah kita jatuhkan, (mengutip kata-kata penulis) “Jangan karena kebaikan mereka, melupakan kejahatan mereka. Jangan karena kelaknatan mereka, melupakan kemuliaan mereka”

2 thoughts on “I Do Not Teach You Tricky

  1. APAKAH ANDA ORANG YANG CERDIK BERBICARA?

    Sayang sekali tak banyak yang memahami bahwa kemampuan kita bertutur kata menentukan tempat kita pada piramida sosial, serta banyaknya uang yang bisa masuk ke kantong kita. ——- Earl Nightingale.

    “Berbicara” menyentuh hampir segala aspek kehidupan kita, hampir semua orang dapat, tetapi untuk meraih kesuksesan serta kekayaan, Anda perlu menyampaikannya dengan “cerdik”.

    “Cerdik Berbicara” boleh dikatakan adalah usaha kita untuk membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, meraih kekayaan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan, dan sangat mungkin juga melestarikan peradaban.

    Salah satu prinsip yang senantiasa mesti Anda ingat adalah:

    “Boleh mengatakan kekurangan orang, tidak boleh melukai harga diri orang”.

    “Boleh menyanjung secara terbuka, memberi kritikan sebaiknya selalu dilakukan secara tertutup”.

    Pembaca yang budiman, entah Anda sudah mendengar atau tidak, karena akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, ada sebuah buku sangat menarik yang membahas tentang berbicara (dan mudah-mudahan Anda bisa mendapatkan disemua toko buku Gramedia), yakni:

    “Cerdik Berbicara, cerdas menguasai suasana”

    Buku tersebut pertama kali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), dengan amat menarik buku tersebut memaparkan taktik dan seni berbicara yang akan memudahkan Anda memenangi perkara dan menguasai suasana.

    Lewat buku yang disajikan dengan sangat atraktif tersebut, Anda akan akan tahu bagaimana kiat jitu menyampaikan:

    * Kabar buruk dengan cara yang bijak

    * Fakta keras dengan cara yang lembut

    * Kerumitan dengan cara yang sederhana

    * Berita panas dengan cara yang dingin

    * Penolakan yang berat dengan cara yang ringan

    Serta cara merancang dan menangani gosip serta desas desus, maupun dusta yang menyakinkan

    Mari saya ceritakan sebuah kisah kepada Anda:

    Seorang suami sedang bermesraan dengan isterinya, sambil mengelus-elus si isteri, si suami dengan semangat mengebu berkata, “Sayang, kulit kamu terasa sangat halus, tidak sedikitpun seperti perempuan yang berusia empat puluhan.”
    Mendengar pujian sang suami, si isteri tertawa senang, “Oh iya, akhir-akhir ini mereka yang pernah meraba kulit saya juga bilang gitu.”
    PLaaak! Mendadak satu tamparan mendarat di pinggul si isteri. Sang suami dengan nada tinggi bertanya, “Kurang ajar, siapa-siapa saja yang telah kamu tawarkan untuk meraba-raba kulitmu, huh? Ayo bicara jujur!”
    Sambil mengosok-gosok paha menahan sakit si isteri berkata, “Lah jangan marah dulu! Setiap perempuan di tempat perawatan kulit pada ngomong kulitku halus.”

    Sebuah cerita lagi:

    Seorang suami mencari-cari sesuatu tetapi tidak ketemu, lalu meminta tolong isterinya membantu, sang isteri begitu melihat langsung menemukannya. Lalu dengan nada gusar, sang isteri menunjuk ke arah mata si suami, berkata, “Tuhan memberi kamu sesuatu yang sangat bagus, tapi kamu tidak memanfaatkannya.”
    Sang suami tersenyum seraya menunjuk si isteri berkata:
    “Tuhan memberi saya sesuatu yang sangat bagus, saya sedang memanfaatkannya”

    (Numpang tanya, segusar apapun si isteri pada waktu itu, begitu mendengar perkataan sang suami, bukankah di hati kecilnya akan timbul rasa senang?”

    Dua kisah tadi, dari sisi manapun Anda melihatnya, pastilah terasa lebih mirip sebuah cerita lucu, betul tidak?

    Namun, jika Anda seksama mengamati, maka Anda berkemungkinan besar menemukan bahwa di sekeliling kita dipenuhi dengan kisah-kisah lucu seperti tadi. Karena hanya kurang “cerdik berbicara”, keliru mengatakan: hal-hal yang awalnya berjalan baik, dapat berakhir dengan kekacauan; persoalan yang kelihatannya sudah hampir selesai menjadi berlarut-larut.

    Sebaliknya, jika Anda orang yang cerdik berbicara, persoalan sulit terasa mudah diatasi, suasana kikuk dapat mudah Anda hindari.

    Kualitas hidup kita, hubungan kita dengan sesama manusia dapat ditingkatkan dengan memahami dan memperbaiki cara kita berbicara.

    Pembaca yang budiman, saya akhiri tulisan ini dengan sebuah kata bijak:

    “Orang yang memperolah hasil paling memuaskan, tak selamanya orang yang paling pandai mengunakan otaknya, tapi orang yang dapat dengan tepat menyatukan antara otak dan kecercikan berbicara.”—–Dale Cargenie

    Cari dan baca buku “Cerdik bebicara, cerdas mengusai suasana”, jika Anda menemukan manfaatnya, silahkan kenalkan pada teman Anda.

    Salam Sejahterah

    Jusra Chandra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s