Speak the words!

Layaknya pemula di dunia Linux, banyak sekali hal baru yang saya temukan saat menggunakan Ubuntu. Hari ini, seekor ayam memberi pencerahan tentang eksistensi espeak, sebuah program text-to-speech berbasis command-line pada platform Linux.

Keingintahuan saya tergelitik. Langsung deh saya periksa apakah Ubuntu menyertakan program ini. Ketik man espeak pada terminal, ternyata ada. Lalu bagaimana cara menggunakannya ? Baca lebih lanjut

I Do Not Teach You Tricky

Ada sebuah buku bagus yang saya baca baru-baru ini. Judulnya “I Do Not Teach You Tricky”, ditulis oleh Jusra Chandra.

Buku ini bukanlah buku tentang motivasi, tetapi tentang sifat manusia. Tentang orang yang tidak baik tetapi juga tidak jahat. Tentang tipu muslihat dalam hubungan antar manusia. Tentang “abu-abu”, bukan tentang “hitam atau putih”. Tidak menggurui, tapi mengajak memahami. Walaupun memahami, tetapi tidak dipaksa untuk menyetujui. Baca lebih lanjut

Kagokmatic

Mengendarai skuter matic (betul kan itu istilahnya?) itu lebih sulit daripada mengendarai sepeda motor bebek biasa. Begitu deh kalau sudah terikat selama bertahun-tahun, sulit sekali beradaptasi dengan hal baru.

Yang paling terasa adalah, kebiasaan memindahkan gear dan mengerem dengan kaki. Skuter matic jelas tidak punya pedal perpindahan gear dan pedal rem belakang, tapi kaki ini tanpa sadar terus mencoba menekan pedal yang tidak ada. Baca lebih lanjut

Why Ubuntu ?

Alasan saya menggunakan Ubuntu

1. Bebas dari gangguan virus, trojan, spyware, backdoor. Sayang masih belum terbebas dari Blue Screen Of Death yang menyebalkan itu. Masih dual boot sih.

2. Bebas dari kerewelan install aplikasi ini-itu, atau driver ini-itu. Aplikasi-aplikasi yang biasa digunakan sehari-hari sudah terbundel dalam Ubuntu. Kalaupun saya perlu menginstall suatu atau beberapa aplikasi, saya tidak perlu me-restart komputer setiap kali proses instalasi aplikasi selesai. It’s on-the-fly, baby.

3. Workspace! Fitur yang biasa ditemukan pada distribusi GNU/Linux ini benar-benar magnificent. Baca lebih lanjut

Weapon of choice

Sebagai seorang “musafir warnet”, saya “mempersenjatai” flashdrive saya dengan beberapa installer program dan program portabel. Ini perlu, karena warnet tidak selalu menyediakan program yang saya inginkan. Misalnya, web browser yang tersedia di warnet hanya IE. Maaf saja, saya masih cukup waras untuk menghindari IE, kalau bisa. Saya lebih suka Firefox atau Opera.

Atau contoh lain. Antivirus yang ter-install di komputer warnet “cuma” AVG Free. Tidak diupdate pula. Padahal terkoneksi ke internet tanpa antivirus yang memadai adalah tindakan bunuh diri (setidaknya di platform Windows). Apalagi mengingat warnet dipakai oleh banyak user. Bisa saja user tanpa sengaja (atau dengan sengaja?) menginfeksi komputer dengan virus yang tertanam di flashdrive.

Jadi, penting bagi saya untuk selalu siap sedia dengan sederet program dalam genggaman. Baca lebih lanjut

Solar hijau : Makhluk apa lagi ini ?

Yang jelas bukan sejenis hewan melata.
…………….
Oke, itu lelucon yang buruk.

Solar hijau (kata penemunya) adalah campuran solar, air, dan zat aditif yang (katanya) sudah dipatenkan dengan perbandingan 75:10:15. Zat ini diklaim lebih baik daripada solar murni : (konon) lebih irit, emisi gas buang turun sampai 40%, dan lebih murah.

Too good to be true? Bisa jadi. Saya harap belum ada yang melupakan “heboh” blue energy dan banyugeni. Baca lebih lanjut

Why it didn’t occur to me sooner?

I finally solved the black screen problem on Intrepid. Like I write in my previous post, I couldn’t login into Intrepid. The problem apparently lies on compiz; Ubuntu automatically activate it on default setting, but the graphic chip (8 MB shared memory) didn’t have enough power to handle it. (Strangely, compiz on Feisty and Hardy runs without problem)

Now that I knew the culprit, I could fix it easily. Instead of GUI, I logged in into console (Ctrl + Alt + Fn). Baca lebih lanjut