Need to revitalize

I feel that lately I’m lacking enthusiasm of reading and writing. Maybe it was because of the weather. The sky has been gloomy these days, enough to affect my mood. Of course, that’s just excuses. The problem lays within myself; I was, and still a lazy lad. I used to wait till tomorrow what I should have do today. And by nature, I’m not early-bird type. I used to considered that waking up at 6 am or earlier as a crime.

Changing bad habits is hard.

Pstnn ttn skgtn dam sms

Judul entri kali ini adalah singkatan dari “Postingan tentang penggunaan singkatan dalam sms”

Gft jur asdrt kou dasn hjhda etlk hgab fger

Tidak persis seperti diatas, tapi bisa menggambarkan SMS yang biasa saya terima, yang sering menggunakan kata-kata yang disingkat sedemikian rupa. Entah demi alasan penghematan atau gaul atau apa, yang jelas saya lebih sering tidak paham daripada paham apa kata-kata yang disingkat itu. Mungkin saya-nya yang kuper.
Baca lebih lanjut

(Not) Rest In Peace

Yap, akhirnya tiga tersangka dalang peledakan bom Bali I dieksekusi. Akhir yang pantas saya kira, setelah membunuh 200 orang dan membuat 300 lainnya cacat dan luka permanen. Belum lagi luka psikologis yang ditanggung masyarakat Bali.

Herannya, masih ada saja yang membela ketiga pembunuh ini. Atas nama solidaritas seagama, ketiga jagal ini dielu-elukan sebagai mujahid. Ada juga yang menganggap Amrozi cs bukan pelaku pemboman tetapi orang tak bersalah, sehingga orang-orang yang berperan dalam putusan dan pelaksanaan eksekusi otomatis mendapat stempel kafir.

You know what ? Bullshit. Amrozi cs bahkan bangga bisa menghabisi 200 orang tersebut. Jika menjagal 3 orang bisa dihukum mati, apakah menjagal 200 orang patut diberi keringanan ?

Yang ingin mengikuti jejak Amrozi cs jadi tukang bom, silakan ke Afganishtan, Irak atau Palestina sana. Jadilah mujahid yang sebenarnya.

Ooops, nyali langsung ciut?

NB : Semoga Abu Bakar Baasyir cepat menyusul ketiga orang tersebut

Sorry, mate

Skenario:

Seorang teman minta bantuan dibimbing menggunakan MS Word. Saya tunjukkan langkah-langkahnya satu-persatu. Sang teman mengikuti instruksi yang saya berikan, walau dengan terbata-bata. Terbawa suasana, saya mulai jengkel karena sang teman sering lupa cara melakukan suatu perintah, padahal saya baru menunjukkan caranya kurang dari semenit sebelumnya. Akhirnya saya mulai meninggikan suara.

Di akhir sesi, sang teman berkata “Kamu marah ya? Maaf”

It felt like a slap on my face. Saya selalu berasumsi setiap orang setidaknya sama meleknya dengan saya dalam hal menggunakan komputer. Padahal saya tahu bahwa teman saya itu (menurut pengakuannya) baru-baru ini saja menggunakan komputer. Saya sendiri juga tidak jago-jago amat menggunakan komputer. Kok saya malah bersikap tidak bersahabat seperti itu?

Saya secepatnya minta maaf kepada teman saya tersebut. Masih untung saat itu saya belum sampai pada tahap “ketus”. Kalau iya, mungkin “kerusakan” yang terjadi tidak akan bisa saya perbaiki.

Kepada teman saya itu, kalau dia kebetulan membaca postingan ini, sekali lagi saya minta maaf. Anda bersedia kan, memaafkan saya?