RUU APP, layakkah didukung ?

Menurut saya, tidak.

Jangan salah sangka. Saya setuju bahwa perlu ada aturan perundangan yang mengatur masalah pornografi. Masalahnya RUU APP yang hendak disahkan ini turut ikut campur terlalu dalam ke dalam urusan privasi warga negara. Ada kontradiksi di sana-sini, pasal-pasal “karet” yang dapat menyebabkan multitafsir. Yang paling membuat miris, RUU ini bila disahkan justru dapat mendorong terjadinya konflik horizontal dalam masyarakat dan disintegrasi bangsa.

Saya akan mencoba mentelaah beberapa pasal “karet” dan bermasalah dalam RUU ini. Dimulai dari pasal 1

“Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum yang dapat membangkitkan seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.”

Definisi “yang dapat membangkitkan seksual” itu yang seperti apa? Tiap orang dapat berbeda-beda. Misalnya : bagi laki-laki, gambar laki-laki telanjang dada mungkin tidak berarti apa-apa, tapi bagi perempuan, gambar yang sama mungkin dapat mebangkitkan syahwat. Atau haruskah negara mengatur standar “yang dapat membangkitkan seksual”? Disamaratakan, begitu ?

Nilai-nilai susila itu yang seperti apa ? Tiap-tiap daerah berbeda-beda. Nilai susila di Aceh tentu berbeda dengan yang di Jakarta, Madura, Bali, atau Manado.

Pasal 21

Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi.

Pasal ini adalah mimpi buruk. Organisasi-organisasi vigilante semacam FPI, GPK, FBR akhirnya akan mendapatkan legitimasi dalam melakukan aksi “damai”nya, sesuatu yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan. Dan jika aksi “damai” yang selama ini mereka lakukan tanpa legitimasi biasa berujung pada tindak vandalisme, bagaimana jadinya nanti ketika aksi mereka disahkan oleh negara ?

Pasal 25 dan 79

Larangan bagi setiap orang dewasa, mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual , antara lain: alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar, & patudara perempuan (pasal25) baik terlihat sebagian maupun seluruhnya, Pidana Penjara 2-10 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) (Pasal 79)

Anda lihat, menurut rancangan undang-undang ini, perempuan selalu menjadi penjahatnya (karena memiliki bagian tubuh yang sensual), dan laki-laki selalu menjadi korbannya (karena syahwatnya dibangkitkan oleh perempuan).

Masih banyak pasal yang hendak saya bahas, tapi entri kali ini sudah terlalu panjang. Karena itu akan saya lanjutkan lain kali saja. Tapi sebelumnya, coba bayangkan contoh kasus berikut

Bayangkan, seorang gadis menjadi korban pemerkosaan. Si pemerkosa tentu saja akan diadili, dengan tuduhan melanggar pasal entah yang keberapa dalam KUHP. Tapi si korban, juga dapat dituntut karena melanggar UU APP, yaitu
-membangkitkan nafsu seksual pemerkosa
-mempertontonkan bagian tubuh yang sensual kepada pemerkosa (kecuali kalau diperkosa dalam keadaan berpakaian lengkap)

Katakan TIDAK pada RUU APP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s